Pertanyaan yang jarang ditanyakan

Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul tiap kali pemilik usaha diminta akses ke akun domainnya. "Lho, domainnya kan sudah saya beli dari orang yang dulu bikin website saya, kok masih harus login ke mana-mana lagi?"

Pertanyaan yang wajar. Kebanyakan orang waktu beli domain cuma mikir dua hal, namanya masih ada atau tidak, dan harganya berapa. Begitu lunas, urusan dianggap beres, sama seperti beli barang di toko.

Masalahnya domain bukan barang. Kalau tokoanda.com cuma boleh dipakai satu orang di seluruh dunia, pasti ada yang pegang daftarnya, kan? Siapa? Dan siapa yang memutuskan nama itu punya Anda, bukan punya orang yang dulu membelikannya?

Ternyata yang pegang bukan satu pihak. Ada empat lapisan, dan pemilik usaha tadi, seperti kita semua, ada di lapisan paling bawah.

Selama tidak ada masalah, empat lapisan itu memang tidak pernah kelihatan. Begitu ada sengketa kepemilikan, transfer yang macet, atau domain tiba-tiba ditangguhkan, baru terasa pentingnya tahu siapa mengurus apa, supaya tidak salah alamat mengadu.

Kalau istilah domain sendiri masih asing, artikel apa itu domain lebih pas dibaca dulu. Tulisan ini melanjutkan dari sana.

ICANN, pengelola di puncak

Di lapisan paling atas ada ICANN, singkatan dari Internet Corporation for Assigned Names and Numbers. Organisasi nirlaba yang berkantor di Los Angeles ini berdiri tahun 1998. Tugasnya satu, menjaga supaya sistem penamaan internet tetap satu dan tidak bentrok.

ICANN tidak menjual domain. Mereka juga tidak mengurus pendaftaran Anda satu per satu.

Mereka memegang daftar ekstensi yang sah (.com, .org, .id, dan sekitar 1.500 lainnya), menentukan siapa yang berhak mengelola tiap ekstensi, dan menetapkan aturan main untuk semua pihak di bawahnya.

Lucunya, ICANN tidak punya kekuatan hukum seperti pemerintah. Tidak ada undang-undang yang mewajibkan orang ikut aturan mereka.

Semua pihak ikut karena itulah satu-satunya cara agar sebuah nama bisa dibuka dari mana pun di dunia. Kalau ada yang bikin sistem tandingan, namanya cuma bisa dibuka oleh orang yang ikut sistem itu juga.

Bagian teknisnya, yang disebut root zone atau daftar induk semua ekstensi, dikelola lewat fungsi bernama IANA. Inilah yang dibaca oleh sistem DNS sebagai titik awal setiap kali browser Anda mencari alamat.

Seberapa kecil jatah ICANN dari domain Anda?

Dari tiap domain .com yang Anda bayar, ICANN hanya menerima sekitar 18 sen dolar per tahun. Sisanya terbagi ke registry dan registrar. Jadi kalau ada yang bilang domain mahal gara-gara ICANN, sebenarnya salah alamat.

Registry, pemilik tiap ekstensi

Satu tingkat di bawah ICANN ada registry. Tiap ekstensi punya satu registry, dan registry inilah yang benar-benar memegang basis data semua nama yang terdaftar di ekstensi itu.

.com dan .net dikelola Verisign, perusahaan Amerika yang memegang kontrak ini sejak tahun 2000-an. .org dikelola Public Interest Registry.

Semua yang berakhiran .id dikelola PANDI, Pengelola Nama Domain Internet Indonesia, yang mendapat mandat mengurus ekstensi negara kita sejak 2007.

Registry tidak melayani orang per orang. Anda tidak bisa datang ke Verisign lalu minta tokoanda.com. Mereka hanya berurusan dengan pihak di bawahnya, yaitu registrar.

Satu hal yang penting diingat, registry menentukan harga grosir.

Verisign misalnya menjual .com ke registrar seharga 10,26 dolar per tahun, dan sudah mengumumkan kenaikan ke 10,97 dolar mulai 1 November 2026. Kontraknya dengan ICANN membolehkan kenaikan 7% per tahun di empat dari tiap enam tahun, jadi kalau dipakai penuh, harganya bisa menyentuh 13 dolar lebih sebelum 2030.

Itu sebabnya harga .com di semua registrar merangkak naik bersamaan dari tahun ke tahun. Bukan registrarnya yang serakah, harga grosirnya memang naik.

Registrar, loket tempat Anda membeli

Lapisan ketiga inilah yang Anda kenal. Registrar adalah perusahaan yang terakreditasi untuk menerima pendaftaran dari publik lalu menuliskannya ke basis data registry.

Rumahweb, Niagahoster, IDwebhost, Exabytes, sampai yang global seperti Namecheap, GoDaddy, dan Cloudflare, semuanya registrar.

Untuk menjual .com, sebuah registrar harus terakreditasi ICANN. Untuk menjual .id, harus terakreditasi PANDI. Banyak registrar Indonesia punya dua-duanya.

Bedanya registrar dengan registry itu seperti bedanya loket kelurahan dengan Dukcapil pusat. Loket menerima berkas Anda, memeriksa, lalu mencatatkannya ke basis data pusat. Datanya tidak disimpan di loket, tapi loket yang bertanggung jawab ke Anda.

Karena semua registrar menulis ke basis data yang sama, tidak ada "domain Rumahweb" atau "domain GoDaddy". tokoanda.com yang dibeli di mana pun ya domain yang sama persis.

Dan karena sama, dia bisa dipindah dari satu registrar ke registrar lain kapan saja.

Masih ada satu lapisan lagi di bawah ini yang sering tidak kelihatan, yaitu reseller. Jasa pembuatan website, agensi, atau freelancer yang "sekalian beliin domain" biasanya reseller dari sebuah registrar.

Bedanya bukan cuma soal harga. Registrar terakreditasi diaudit berkala oleh ICANN atau PANDI, wajib punya asuransi tanggung gugat, dan punya akses langsung ke registry. Reseller tidak punya kewajiban itu, dan kalau bisnisnya tutup, domain Anda ikut menggantung di akun registrar yang bukan milik Anda.

Cara mengeceknya gampang. ICANN memuat daftar registrar terakreditasinya di icann.org/en/accredited-registrars, dan PANDI di pandi.id/registrar. Kalau nama tempat Anda beli tidak ada di sana, berarti dia reseller, dan Anda perlu tahu registrar mana yang ada di belakangnya.

Nanti di bagian kepemilikan kita bahas kenapa ini perlu diwaspadai.

Empat lapisan pengelola domain dari atas ke bawah: ICANN, registry seperti Verisign dan PANDI, registrar seperti Rumahweb dan Namecheap, lalu Anda sebagai registrant ICANN Registry · Verisign (.com) · PANDI (.id) Registrar · Rumahweb · Niagahoster · Namecheap · Cloudflare Anda (registrant) aturan & daftar ekstensi basis data tiap ekstensi menyewa per tahun loket publik
Pendaftaran Anda mengalir dari bawah ke atas. Masalah Anda diselesaikan dari bawah juga, mulai dari registrar.

Siapa mengurus apa, dalam satu tabel

Supaya gampang dirujuk kalau suatu hari ada masalah.

Lapisan Contoh Yang mereka pegang Kapan Anda berurusan dengannya
ICANN Satu-satunya Daftar ekstensi yang sah, akreditasi registrar, aturan transfer dan WHOIS Hampir tidak pernah. Paling kalau mengadukan registrar yang melanggar aturan transfer
Registry Verisign (.com, .net), PANDI (.id), PIR (.org) Basis data semua nama di satu ekstensi, harga grosir, syarat pendaftaran Sengketa kepemilikan (PANDI punya mekanisme sendiri untuk .id), atau domain dicabut karena melanggar syarat
Registrar Rumahweb, Niagahoster, IDwebhost, Namecheap, GoDaddy, Cloudflare Akun Anda, tagihan, pengaturan nameserver, kode transfer, data kontak Hampir semua urusan sehari-hari. Beli, perpanjang, ganti DNS, pindah registrar
Reseller Agensi web, freelancer, penyedia hosting kecil Tidak punya akses langsung ke registry, hanya akun di registrar Kalau domain Anda dibelikan pihak ketiga. Pastikan nama registrant tetap Anda
Registrant Anda atau perusahaan Anda Hak pakai nama selama masa sewa, plus kewajiban menjaga data kontak tetap benar Setiap saat. Andalah yang namanya tercatat sebagai pemegang domain
Registry yang menyimpan datanya, registrar yang bertanggung jawab ke Anda.

Bagaimana dengan domain .id?

Ekstensi negara seperti .id, .sg, atau .jp punya posisi agak istimewa. ICANN menyerahkan pengelolaannya ke masing-masing negara, dan tiap negara boleh punya aturannya sendiri.

Indonesia menyerahkannya ke PANDI, yang bekerja di bawah pengawasan Kementerian Komunikasi dan Digital.

Sejarahnya agak panjang. Dari awal 1990-an sampai 2007, .id dikelola IDNIC yang bernaung di Universitas Indonesia, bahkan sempat diurus perorangan di masa paling awal. PANDI dibentuk komunitas internet bersama pemerintah pada September 2006, mulai mengambil alih operasional pada 2007, dan baru diakui resmi oleh IANA sebagai registry .id pada Mei 2013.

Akibatnya, syarat mendaftar domain .id bisa berbeda jauh dengan .com, tergantung jenisnya.

Ekstensi Untuk siapa Syarat yang umum diminta
.idSiapa saja, pribadi maupun usahaKTP atau paspor. Paling longgar
.co.idBadan usahaNIB atau akta, plus KTP penanggung jawab. Nama domain wajib berkaitan dengan nama usaha
.my.id, .biz.idPribadi dan usaha kecilKTP. Harganya paling murah, sering di bawah Rp 20 ribu tahun pertama
.ac.id, .sch.idPerguruan tinggi dan sekolahSurat izin penyelenggaraan pendidikan dan surat kuasa pimpinan
.go.id, .mil.idInstansi pemerintah dan militerSurat resmi instansi. Tidak bisa didaftarkan lewat registrar komersial biasa
Persyaratan tiap registrar bisa sedikit berbeda dan berubah dari waktu ke waktu. Cek halaman syarat registrar Anda sebelum mengunggah dokumen.

Kenapa ribet begini?

Karena syarat itulah yang membuat .co.id lebih dipercaya. Orang tahu di balik nama itu pasti ada badan usaha yang dokumennya sudah diperiksa. Untuk bisnis lokal yang mengincar pembeli Indonesia, ini nilai tambah yang kadang dilupakan.

Untuk .com, tidak ada pemeriksaan dokumen sama sekali. Siapa pun boleh mendaftar nama apa pun selama belum dipakai orang, dan inilah salah satu alasan nama brand Anda bisa "dicuri" duluan oleh orang lain di ekstensi itu.

Anda sebenarnya menyewa, bukan membeli

Ini bagian yang paling perlu dibaca pemilik bisnis.

Secara hukum, tidak ada yang benar-benar memiliki domain. Anda membayar hak untuk memakai nama itu selama satu sampai sepuluh tahun, dan hak itu bisa diperpanjang terus selama Anda membayar.

Begitu berhenti membayar, nama itu kembali ke pasar dan siapa pun boleh mengambilnya.

Lalu apa yang menentukan "punya siapa"? Satu kolom di basis data registry, namanya registrant. Siapa yang membayar atau siapa yang membuat websitenya tidak dihitung, yang dilihat cuma nama di kolom itu.

Di sinilah masalah reseller tadi muncul, dan polanya hampir selalu sama. Sebuah usaha minta dibuatkan website ke freelancer. Freelancer itu membelikan domain lewat akun resellernya, dan supaya cepat, kolom registrant diisi datanya sendiri.

Selama hubungan baik, tidak ada yang terasa. Dua tahun kemudian freelancernya susah dihubungi, atau minta biaya yang tidak masuk akal untuk "menyerahkan" domain.

Secara aturan, dia memang pemegangnya yang sah. Bisnis itu sudah dua tahun membangun brand di atas nama yang bukan miliknya.

Cara cek kepemilikan dalam dua menit

Buka layanan WHOIS atau RDAP mana pun, misalnya lookup.icann.org untuk .com atau whois.id untuk .id, lalu ketik domain Anda. Lihat kolom Registrant. Kalau datanya disembunyikan oleh privacy protection, minta akses akun registrar ke pihak yang membelikan. Reaksi mereka waktu diminta biasanya sudah cukup menjelaskan posisi Anda.

Makanya, siapa pun yang membuatkan website Anda, mintalah domain didaftarkan atas nama Anda atau perusahaan Anda, di akun registrar yang emailnya milik Anda.

Biaya pembuatan websitenya silakan ditagih pihak ketiga, itu wajar. Tapi kolom registrant-nya tetap nama Anda.

Pembahasan lebih luas soal ini, bersama jebakan tanggal perpanjangan, ada di artikel perbedaan domain dan hosting.

Tiga aturan ICANN yang akan Anda rasakan sendiri

Kebanyakan aturan ICANN tidak pernah Anda temui. Tiga ini pengecualiannya, dan semuanya berlaku untuk ekstensi global seperti .com, .net, .org.

  • Kunci 60 hari. Domain yang baru didaftarkan, baru dipindah registrar, atau baru diganti nama registrant-nya, tidak bisa dipindahkan lagi selama 60 hari. Jadi kalau Anda berencana pindah registrar, jangan ubah data kontak dulu.
  • Kode transfer. Untuk pindah registrar Anda butuh kode otorisasi, sering disebut EPP code atau auth code, dari registrar lama. Registrar lama wajib memberikannya. Kalau dipersulit, itu pelanggaran yang bisa diadukan ke ICANN.
  • Masa tenggang setelah kedaluwarsa. Domain yang lewat tanggal tidak langsung hilang. Biasanya ada sekitar 30 hari masa redemption di mana Anda masih bisa menebusnya, dengan biaya yang jauh lebih mahal dari perpanjangan biasa, bisa Rp 1 juta lebih untuk .com. Setelah itu baru dilepas ke publik.

Untuk .id, aturannya ditentukan PANDI dan sebagian mirip, tapi detail masa tenggang dan biayanya bisa berbeda. Lebih enak tanya ke registrar sekarang, mumpung domainnya masih aktif.

Bisakah bikin ekstensi sendiri?

Pertanyaan ini muncul tiap kali orang melihat .google atau .bmw. Jawabannya bisa, tapi jalurnya bukan lewat registrar.

ICANN membuka pendaftaran ekstensi baru dalam "putaran". Putaran pertama tahun 2012 melahirkan lebih dari seribu ekstensi baru, dari .xyz, .shop, sampai .jakarta. Putaran berikutnya dijadwalkan dibuka tahun 2026.

Biayanya yang bikin kebanyakan orang berhenti bertanya.

Biaya pengajuan saja di kisaran 200 ribu dolar. Itu belum termasuk kewajiban mengoperasikan infrastruktur registry sendiri, atau menyewa perusahaan yang bisa, bertahun-tahun ke depan. Jadi memang hanya masuk akal untuk korporasi besar atau kota yang mau punya identitas digital sendiri.

Untuk bisnis pada umumnya, pilihannya tetap di antara .com, .id, .co.id, dan ratusan ekstensi lain yang sudah ada. Pertimbangan memilihnya, termasuk pengaruhnya ke SEO, sudah kami bahas di artikel apa itu domain.

Pertanyaan umum

Siapa yang mengatur nama domain di dunia?

ICANN, organisasi nirlaba di Amerika Serikat, memegang daftar induk semua ekstensi dan aturan mainnya. Tiap ekstensi lalu dikelola satu registry, misalnya Verisign untuk .com dan PANDI untuk .id. Registry tidak melayani publik; pendaftaran dilakukan lewat registrar terakreditasi seperti Rumahweb atau Namecheap, dan Anda sebagai registrant ada di lapisan paling bawah.

Siapa yang mengatur domain .id di Indonesia?

PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia), yang mendapat mandat mengelola ekstensi .id sejak 2007 dan bekerja di bawah pengawasan Kementerian Komunikasi dan Digital. PANDI menetapkan syarat tiap sub-ekstensi, misalnya .co.id wajib melampirkan dokumen badan usaha, sedangkan .id dan .my.id cukup KTP.

Apa bedanya registrar dan registry?

Registry adalah pengelola satu ekstensi yang memegang basis data semua nama di ekstensi itu, seperti Verisign untuk .com. Registrar adalah perusahaan terakreditasi yang menjadi loket pendaftaran untuk publik dan mencatatkan pendaftaran Anda ke basis data registry. Anda berurusan dengan registrar untuk hampir semua hal; registry hanya muncul saat ada sengketa atau pencabutan.

Apakah domain bisa dimiliki selamanya?

Tidak. Domain disewa dengan masa satu sampai sepuluh tahun dan harus diperpanjang terus. Kalau tidak diperpanjang, setelah masa tenggang sekitar 30 hari (untuk ekstensi global) nama itu dilepas kembali ke publik dan bisa diambil siapa saja. Beberapa registrar menawarkan perpanjangan otomatis, yang sebaiknya diaktifkan untuk domain bisnis.

Bagaimana kalau domain saya didaftarkan atas nama orang lain?

Secara aturan, pemegang sah domain adalah yang tercatat di kolom registrant, bukan yang membayar atau membuat websitenya. Minta pihak tersebut mengubah data registrant ke nama Anda atau memindahkan domain ke akun registrar milik Anda. Untuk .id, PANDI punya mekanisme penyelesaian sengketa nama domain; untuk .com berlaku prosedur UDRP dari ICANN, tapi keduanya memakan waktu dan biaya, jadi jauh lebih baik dicegah sejak awal.

Bagaimana cara tahu tempat saya beli domain itu registrar resmi atau reseller?

Cek namanya di daftar registrar terakreditasi ICANN (icann.org/en/accredited-registrars) untuk .com dan sejenisnya, atau di daftar registrar PANDI (pandi.id/registrar) untuk .id. Kalau tidak ada, berarti reseller yang menumpang akun di registrar lain. Bukan berarti buruk, tapi pastikan domain tetap tercatat atas nama Anda dan Anda tahu registrar mana yang sebenarnya memegangnya.