Cerita yang Berulang di Forum, Bukan Cuma di Kepala Anda
Orang yang mengalami ini biasanya diam dulu beberapa minggu.
Bukan karena tidak tahu harus bertanya ke siapa, tapi karena malu. Ada perasaan bahwa dirinya sendiri yang ceroboh, dan cerita ini terlalu memalukan untuk dibawa ke grup sesama pemilik usaha.
Padahal kalau Anda menengok forum tempat orang-orang hosting berkumpul, cerita seperti ini muncul terus, tahun demi tahun, dengan pola yang mirip. Saya kutipkan beberapa yang paling menggambarkan, semuanya dari thread publik.
Yang pertama dari tahun 2016, waktu sebuah penyedia layanan bernama host.co.id mendadak lenyap.
"kami tidak dapat melakukan kontak kepada host.co.id (semua nomor contact nya dalam keadaan tidak aktif), kami sudah melakukan transfer deposit ke rekening host.co.id kurang lebih satu bulan lama nya tapi sampai sekarang masih tidak ada respon"
Thread "Host.co.id Menghilang", diskusiwebhosting.com, Juli 2016
Di thread itu ada klien yang domainnya keburu expired sementara tidak ada satu orang pun yang bisa dimintai EPP code. Uang deposit mereka juga masih mengendap di akun yang pemiliknya raib.
Yang kedua polanya berbeda. Vendornya tidak hilang, tapi diam-diam memindahkan kendali domain ke akunnya sendiri.
"kendali domain itu sudah di pindah sepihak oleh perusahaan itu ke akun mereka. dan saya tidak bisa kendalikan domain itu"
Thread "Mohon sarannya soal kepemilikan domain", diskusiwebhosting.com
Domainnya dulu didapat gratis sebagai bonus paket toko online. Empat tahun berjalan aman, sampai orangnya mau pindah platform dan baru sadar bahwa domain itu tidak pernah benar-benar jadi miliknya.
Anggota forum yang lain menimpali dengan pengalaman serupa. Domainnya ditahan karena penyedianya menganggap domain gratis itu cuma dipinjamkan selama pelanggan masih berlangganan, bukan diserahkan.
Yang ketiga soal EPP code, kunci untuk memindahkan domain ke registrar lain.
"Kalau provider tempat saya mendaftarkan domain tidak mau memberikan EPP code (dan saya juga tidak bisa mendapatkan kodenya sendiri dari panel klien maupun panel domain) apakah saya tetap bisa mengurus transfer domain?"
Thread "Prosedur ambil alih domain dari registrar", diskusiwebhosting.com, Agustus 2023
Domainnya sudah terdaftar sejak 2015 dan perpanjangannya selalu lancar. Sampai suatu tahun tiba-tiba tidak lancar lagi, dan pemiliknya baru sadar dia tidak pernah pegang kuncinya sendiri.
Yang keempat sudah lewat dari fase menyelamatkan, tinggal fase menawar.
"Kami sudah menghubungi kontak yang tertera pada registrant dan diminta untuk mengirimkan email bahwa klien kami ingin mengambil kembali (membeli) dari pemilik sekarang."
Thread soal domain .co.id yang tidak diperpanjang, diskusiwebhosting.com, 2023
Domain .co.id itu lupa diperpanjang, lalu keburu dibeli perusahaan lain. Sekarang untuk mendapatkannya kembali, pemilik lamanya harus membeli namanya sendiri dari orang asing.
Tapi kutipan yang paling terang justru datang dari sisi seberang. Ini ditulis seorang penyedia hosting di forum yang sama, waktu membahas apakah web developer sebaiknya ikut jualan hosting.
"Akun cPanel mulai username/password cPanel juga masih di pegang web design/developer sebagai kartu Truth nya"
Thread "Web Developer -> Web Hosting", diskusiwebhosting.com, Januari 2018
Kartu truf. Disebut begitu apa adanya, tanpa nada menyesal, sebagai keuntungan yang wajar dimiliki penyedia jasa.
Nah, kalau Anda sedang di posisi ini, ada baiknya menyadari satu hal dulu. Anda tidak sedang menghadapi kesialan yang aneh. Anda sedang menghadapi kebiasaan industri yang sudah lama dianggap normal oleh sebagian pelakunya.
Dan perhatikan bahwa lima orang tadi macetnya di titik yang berbeda-beda. Ada yang macet di domain, ada yang macet di akses hosting, ada yang macet di kepemilikan yang tidak pernah jelas sejak awal.
Itu sebabnya pertanyaan "bagaimana cara ambil alih website saya" tidak punya satu jawaban.
Yang Anda Sebut "Website" Itu Empat Barang Terpisah
Di kepala pemilik bisnis, website itu satu benda. Satu proyek, satu invoice, satu vendor.
Secara teknis dan hukum, yang Anda beli sebenarnya empat barang yang berbeda. Keempatnya bisa dipegang pihak yang berbeda, tunduk pada aturan yang berbeda, dan nasibnya bisa berakhir berbeda-beda pula.
- Nama domain. Alamat yang diketik orang di browser. Ini disewa tahunan lewat registrar, dan yang dianggap pemegangnya adalah nama yang tercatat sebagai registrant. Kalau istilah ini masih asing, ada penjelasan terpisah soal apa itu domain.
- Hosting beserta isinya. Server tempat file dan database website Anda tinggal. Beda barang dari domain, walaupun sering dibeli sepaket sampai orang mengira keduanya satu hal. Bedanya dibahas di perbedaan domain dan hosting.
- Source code dan desainnya. Kode program yang membuat website itu berjalan. Ini urusan hak cipta, dan aturannya mengejutkan banyak orang. Nanti kita bahas di bagian tersendiri.
- Akun pihak ketiga. Google Business Profile, Google Analytics, Search Console, email perusahaan, kadang juga nomor WhatsApp Business. Bagian ini yang paling sering terlupa sampai betul-betul dibutuhkan.
Kabar baiknya, keempat barang tadi tidak sama-sama hilang. Biasanya Anda kehilangan satu atau dua, dan sisanya masih bisa diselamatkan.
Kabar buruknya, orang sering menghabiskan energi memperjuangkan barang yang paling sulit direbut, sementara barang yang gampang diambil malah dibiarkan.
Jadi sebelum menelepon siapa pun, tentukan dulu posisi Anda.
Pemeriksaan 15 Menit Sebelum Menempuh Jalur Apa Pun
Ada satu data publik yang menentukan hampir segalanya, dan Anda bisa membukanya sendiri sekarang juga tanpa izin siapa pun.
Namanya WHOIS, catatan resmi tentang siapa yang terdaftar sebagai pemegang sebuah domain. Buka who.is atau whois.com, masukkan alamat website Anda, lalu baca lima baris ini.
- Registrant Name atau Registrant Organization. Inilah baris yang paling menentukan. Nama siapa yang tertulis di situ, dialah yang secara administratif dianggap pemegang domain.
- Registrant Email. Kalau alamat emailnya masih bisa Anda buka, posisi Anda jauh lebih baik daripada yang Anda kira.
- Registrar. Perusahaan tempat domain itu didaftarkan, misalnya Niagahoster, Rumahweb, GoDaddy, atau WebNIC. Ini pihak yang nanti jadi lawan bicara Anda, bukan vendornya.
- Expiry Date. Tanggal kedaluwarsa. Kalau tanggalnya tinggal hitungan minggu, urusan ini berubah jadi mendesak.
- Domain Status. Perhatikan kalau ada tulisan
clientTransferProhibited. Artinya domain sedang dikunci supaya tidak bisa dipindahkan.
Sekalian lihat baris Name Server. Dari situ ketahuan siapa yang sekarang mengendalikan DNS Anda, yaitu pihak yang menentukan alamat itu diarahkan ke server mana.
Hasil pembacaan tadi akan menaruh Anda di salah satu dari tiga kotak berikut.
Kotak paling kanan sering bikin orang panik padahal belum tentu buruk. Layanan privacy protection memang menyembunyikan data registrant dari publik, tapi menyembunyikan bukan berarti mengubah kepemilikan.
Cara memastikannya gampang dan gratis. Buka situs registrar yang namanya tadi Anda baca, klik lupa password, lalu masukkan email perusahaan Anda.
Kalau email reset itu masuk ke inbox Anda, selamat, Anda sebenarnya masih pegang kendali penuh dan tidak perlu jalur apa pun. Kalau tidak masuk, coba email lama yang mungkin dipakai waktu website itu pertama dibuat.
Satu tempat lagi yang layak digeledah adalah inbox lama Anda. Domain berakhiran .com dan sejenisnya mewajibkan verifikasi email registrant waktu pertama didaftarkan, jadi kalau dulu yang didaftarkan memang Anda, jejak emailnya biasanya masih ada di sana.
Kalau di WHOIS Tertulis Nama Anda
Ini kabar terbaik yang bisa Anda dapat dari pemeriksaan tadi, dan kejadiannya lebih sering daripada dugaan orang.
Banyak vendor sebenarnya mendaftarkan domain atas nama kliennya, cuma tidak pernah menyerahkan akses panelnya. Jadi yang hilang itu kuncinya, bukan kepemilikannya.
Yang perlu Anda pahami dulu, vendor Anda hampir pasti bukan registrar. Dia biasanya cuma reseller yang menjual ulang layanan registrar besar.
Jadi lawan bicara yang benar adalah perusahaan yang namanya tertulis di baris Registrar tadi, dan mereka punya kewajiban yang tidak dimiliki vendor Anda.
Untuk domain berakhiran .com, .net, dan .org, aturannya dibuat ICANN dan isinya cukup berpihak ke Anda.
- Registrar wajib memberikan auth code, yang sering juga disebut EPP code, dalam waktu lima hari kalender sejak diminta. Alternatifnya mereka menyediakan panel supaya Anda bisa membuat kodenya sendiri.
- Registrar dilarang menahan auth code atau mempertahankan status
clientTransferProhibitedsemata-mata karena ada sengketa pembayaran antara Anda dan mereka. - Kalau permintaan Anda tetap ditolak tanpa alasan yang sah, Anda bisa mengajukan Transfer Complaint langsung ke ICANN lewat formulir resminya.
Urutannya begini. Hubungi registrar, buktikan Anda registrant yang tercatat, minta domain dibuka kuncinya sekalian minta auth code. Setelah kodenya di tangan, daftarkan transfer di registrar baru pilihan Anda, lalu setujui konfirmasinya lewat email registrant.
Siapkan dokumennya sebelum menelepon. Identitas yang cocok dengan data registrant, akta atau NPWP kalau atas nama perusahaan, bukti pembayaran, dan surat permohonan resmi. Registrar mana pun akan lebih cepat bergerak kalau berkasnya sudah rapi sejak awal.
Untuk domain .id aturannya beda pengelola. Yang mengatur adalah PANDI lewat registrar lokal, dan prosedurnya bertumpu pada verifikasi dokumen kepemilikan. Latar belakangnya ada di tulisan soal siapa yang sebenarnya mengatur domain.
Selama proses ini berjalan, cek terus tanggal kedaluwarsa domain Anda. Ada kasus di mana perebutan kunci berjalan alot sampai domainnya sendiri keburu expired, dan masalahnya berubah jadi masalah yang jauh lebih mahal. Kalau tanggalnya sudah dekat, perpanjang dulu lewat siapa pun yang bisa memperpanjang, baru lanjutkan urusan transfernya.
Kalau yang Tertulis Justru Nama Vendor
Bagian ini yang paling tidak enak ditulis, karena jawabannya sering tidak sesuai harapan orang.
Pasal 23 ayat (1) UU ITE memakai prinsip pendaftar pertama. Siapa yang lebih dulu mendaftarkan, dialah yang berhak memilikinya.
Artinya invoice lunas di tangan Anda tidak dengan sendirinya memindahkan domain. Bukti bayar itu tetap penting, tapi fungsinya sebagai bukti dalam sengketa, bukan sebagai tombol yang bisa dipencet registrar untuk mengganti nama pemilik.
Yang masih terbuka buat Anda ada dua jalan.
Jalan pertama, menawar. Terdengar menyebalkan karena Anda seolah membeli barang sendiri. Tapi kalau nominalnya masih masuk akal dan domainnya penting buat bisnis Anda, ini hampir selalu lebih murah dan lebih cepat daripada jalan kedua.
Jalan kedua, sengketa resmi. Untuk domain .id, jalurnya bernama PPND, singkatan dari Penyelesaian Perselisihan Nama Domain, dikelola PANDI dan sifatnya di luar pengadilan.
Anda perlu membuktikan tiga hal sekaligus, bukan salah satunya saja.
- Nama domain itu identik atau mirip dengan merek atau nama terdaftar milik Anda.
- Pihak yang sekarang memegang domain tidak punya hak atau kepentingan yang sah atas nama tersebut.
- Domain itu didaftarkan atau dipakai dengan itikad tidak baik.
Perhatikan unsur pertama. Kalau merek Anda tidak pernah didaftarkan di DGIP dan nama domainnya kebetulan generik, misalnya berupa gabungan kata umum, posisi Anda lemah sejak awal.
Sekarang bagian yang biasanya menghentikan langkah orang, yaitu biayanya.
Untuk sengketa satu sampai dua nama domain, biaya administrasinya Rp 6,5 juta, ditambah biaya panel Rp 9 juta sampai Rp 10 juta kalau panelisnya satu orang. Totalnya mulai sekitar Rp 15,5 juta, dan seluruhnya ditanggung pemohon. Rata-rata perkara di PPND selesai dalam 46 hari.
Angka itu belum termasuk kuasa hukum kalau Anda merasa perlu memakainya.
Buat perusahaan besar yang mereknya bernilai miliaran, angka segitu murah. Buat toko yang omsetnya belasan juta sebulan, angka segitu artinya lebih baik bangun ulang di alamat baru. Silakan hitung sendiri, dan hitungannya jujur saja.
Preseden paling terkenal di Indonesia kebetulan persis pola ini. Domain mustika-ratu.com dulu didaftarkan mantan karyawan perusahaannya sendiri, sehingga PT Mustika Ratu sempat tidak bisa memakai nama mereknya di internet dan harus menempuh jalur hukum.
Jadi ancamannya memang tidak selalu datang dari kompetitor. Sering datang dari orang yang dulu Anda percaya.
Kalau Domainnya Sudah Terlanjur Mati
Kasus ini beda lagi, dan yang menentukan bukan siapa yang salah, tapi Anda sadarnya di hari ke berapa.
Domain yang lewat tanggal kedaluwarsa tidak langsung dilepas ke publik. Ada beberapa fase, dan tiap fase punya harga serta peluang yang berbeda.
| Fase | Lama | Masih bisa diselamatkan? | Biayanya |
|---|---|---|---|
| Grace period | sekitar 30 hari | Bisa, tinggal perpanjang | Harga perpanjangan normal |
| Redemption period | sekitar 30 hari | Bisa, tapi lewat prosedur restore | Biaya restore bisa sampai 10x harga perpanjangan |
| Pending delete | 5 sampai 7 hari | Tidak bisa | Tidak ada yang bisa dibayar |
| Dilepas ke publik | seterusnya | Cuma kalau Anda lebih cepat dari orang lain | Harga pendaftaran baru, atau harga tawaran pemilik barunya |
Selama masih di grace atau redemption, yang bisa memproses cuma registrar tempat domain itu terdaftar. Jadi walaupun vendornya hilang, Anda tetap punya lawan bicara.
Yang membuat fase ini menegangkan adalah babak sesudahnya. Begitu sebuah domain dilepas, ada pemburu domain yang memang menunggui daftar pelepasan dan mendaftarkannya dalam hitungan detik.
Di thread forum tadi, salah satu anggotanya mengingatkan hal yang sama, bahwa kalau dibiarkan sampai lewat masa redemption, kemungkinan besar domainnya langsung disambar makelar internasional begitu tersedia.
Domain yang pernah punya trafik dan backlink justru paling menarik buat mereka. Nilainya bukan di namanya, tapi di reputasi yang sudah menempel.
Risikonya bukan cuma soal Anda kehilangan alamat. Domain bekas usaha yang jatuh ke tangan salah kadang dipakai ulang untuk isi yang tidak ada hubungannya dengan bisnis Anda, sementara pelanggan lama masih mengetik alamat itu karena ingat dari kartu nama.
Kalau domain Anda masih di fase grace atau redemption saat membaca ini, tutup dulu artikel ini dan hubungi registrarnya. Sisanya bisa diurus besok.
Isi Website dan Source Code: Pasal yang Bikin Kaget
Sekarang bagian yang paling sering disalahpahami, dan sayangnya isinya kabar buruk.
Banyak orang berpikir begini: saya yang bayar, berarti kodenya milik saya. Masuk akal secara nalar dagang, tapi bukan itu bunyi undang-undangnya.
Pasal 36 UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta menyatakan bahwa kecuali diperjanjikan lain, pencipta dan pemegang hak cipta atas ciptaan yang dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan adalah pihak yang membuat ciptaan itu.
Baca sekali lagi bagian "pihak yang membuat".
Artinya posisi bawaan hukum kita justru berpihak ke pembuat, bukan ke pemesan. Kalau kontrak Anda tidak memuat klausul pengalihan hak cipta secara tertulis, secara hukum source code itu milik vendor, walaupun Anda yang membiayai seluruhnya.
Ini alasan kenapa satu paragraf tambahan di kontrak nilainya jauh lebih besar daripada kelihatannya.
Tapi jangan buru-buru menyerah, karena tidak semua isi website itu ciptaan vendor.
- Teks yang Anda tulis sendiri tetap milik Anda. Profil perusahaan, deskripsi produk, artikel yang dulu Anda kirim lewat WhatsApp untuk dipasang.
- Foto produk, logo, dan materi brand yang Anda serahkan ke vendor juga tetap milik Anda.
- Data pelanggan dan riwayat transaksi adalah data bisnis Anda. Vendor tidak punya alasan sah untuk menahannya, dan menahan data pelanggan justru membuka masalah baru buat vendornya sendiri.
Jadi kalau websitenya masih online walau Anda tidak bisa login, ada pekerjaan yang sebaiknya dilakukan hari ini juga, sebelum situsnya keburu mati.
Salin semua isi yang memang milik Anda. Teksnya, foto produknya, daftar layanannya, alamat dan nomor teleponnya. Cara paling sederhana ya buka satu per satu halamannya, lalu simpan.
Kalau websitenya sudah terlanjur mati, coba web.archive.org. Layanan arsip itu menyimpan salinan halaman dari waktu ke waktu, dan untuk website yang sudah berumur biasanya ada beberapa versi tersimpan.
Yang tidak bisa Anda ambil ulang lewat cara ini adalah database di belakang layar, misalnya daftar pesanan atau akun pelanggan. Untuk yang itu, satu-satunya jalan tetap lewat pemegang akses hostingnya.
Aset Lain yang Ikut Tersandera Tanpa Anda Sadari
Orang biasanya baru menghitung bagian ini belakangan, padahal beberapa di antaranya justru yang paling gampang direbut kembali.
Google Business Profile
Ini yang kabarnya paling melegakan. Profil bisnis di Google Maps bisa Anda tarik kembali tanpa persetujuan vendor, karena Google punya prosedur khusus untuk situasi ini.
Caranya cari nama bisnis Anda di Google Business Profile. Kalau muncul keterangan bahwa profil itu sedang dikelola orang lain, pilih Minta Akses, lalu isi formulirnya.
Pemegang lama akan diberi tenggang untuk menjawab. Kalau dia mendiamkan permintaan Anda, Anda bisa lanjut ke proses verifikasi kepemilikan dengan menunjukkan bukti bahwa bisnis itu memang milik Anda.
Siapkan dokumen legalitas usaha, foto papan nama, dan bukti alamat. Kenapa profil ini layak diperjuangkan lebih dulu, alasannya dibahas di tulisan soal Google Business Profile dan SEO lokal.
Analytics dan Search Console
Kalau properti Analytics dibuat di akun Google milik vendor, riwayat datanya memang sulit diselamatkan. Anda bisa membuat properti baru, tapi data lama tetap tinggal di sana.
Search Console sedikit lebih ramah. Verifikasi kepemilikan bisa dilakukan lewat catatan DNS, jadi begitu Anda pegang kendali DNS domain, Anda bisa memverifikasi ulang sendiri tanpa bantuan siapa pun.
Email dengan domain perusahaan
Bagian ini yang paling menyakitkan dan paling sering luput dihitung.
Alamat email seperti info@namaperusahaan.com hidupnya menumpang pada domain dan layanan email yang menempel padanya. Kalau domainnya lepas, email itu ikut mati, termasuk seluruh percakapan dengan klien dan supplier yang tersimpan di dalamnya.
Jadi begitu Anda sadar sedang dalam masalah kepemilikan domain, segera ekspor isi mailbox Anda ke penyimpanan lokal. Ini pekerjaan sepuluh menit yang bisa menyelamatkan arsip bertahun-tahun.
Tabel Ringkas: Mana yang Bisa Direbut, Mana yang Tidak
Ini rangkuman seluruh bagian di atas, supaya Anda bisa langsung menandai posisi sendiri.
| Aset | Bisa diambil tanpa bantuan vendor? | Caranya |
|---|---|---|
| Domain, registrant atas nama Anda | Bisa | Minta auth code ke registrar. Wajib diberikan dalam 5 hari kalender untuk domain .com dan sejenisnya |
| Domain, registrant atas nama vendor | Sulit | Negosiasi beli, atau PPND kalau nama itu merek terdaftar Anda |
| Domain yang sudah expired | Tergantung fase | Masih bisa di grace dan redemption, tidak bisa lagi di pending delete |
| File dan database di hosting | Tidak | Perlu akses cPanel atau panel hosting yang dipegang vendor |
| Source code website | Tidak | Hak ciptanya di pembuat, kecuali ada klausul pengalihan tertulis |
| Teks dan foto yang Anda kirim sendiri | Bisa | Salin ulang dari halaman yang masih hidup, atau dari web.archive.org |
| Google Business Profile | Bisa | Fitur Minta Akses, lalu verifikasi kepemilikan ke Google |
| Search Console | Bisa | Verifikasi ulang lewat catatan DNS setelah Anda pegang domainnya |
| Google Analytics | Sebagian | Properti baru bisa dibuat, tapi riwayat data lama tetap tertinggal |
| Email dengan domain perusahaan | Ikut nasib domain | Ekspor isinya sekarang selagi masih bisa dibuka |
Kapan Berhenti Berjuang dan Pindah ke Domain Baru
Tidak semua pertarungan layak dimenangkan, dan tukang yang jujur harusnya berani bilang begitu.
Hitungannya cuma dua pertanyaan.
Pertama, seberapa banyak yang sudah menempel di domain lama? Umur domainnya berapa tahun, ada berapa backlink yang menunjuk ke sana, dan apakah dia sudah punya peringkat yang mendatangkan pembeli.
Kedua, apakah nama itu merek Anda? Kalau iya dan sudah terdaftar di DGIP, posisi tawar Anda kuat dan biaya sengketa jadi masuk akal. Kalau namanya generik dan tidak pernah didaftarkan, jalur sengketa kemungkinan besar berakhir sia-sia.
Buat website yang baru jalan setahun dua tahun dengan segelintir backlink, jawabannya hampir selalu sama. Pindah ke domain baru jauh lebih murah daripada Rp 15,5 juta dan 46 hari menunggu.
Tapi jangan pindah sambil pura-pura tidak kehilangan apa-apa. Ada satu kerugian yang perlu Anda terima dengan mata terbuka.
Biasanya, waktu sebuah website pindah alamat, kita memasang redirect 301 supaya seluruh pengunjung dan reputasi dari alamat lama diteruskan ke alamat baru. Dalam kondisi Anda, itu tidak bisa dilakukan, karena memasang redirect butuh akses ke server domain lama yang justru sedang tidak Anda pegang.
Jadi Anda memang mulai dari nol. Google akan memperlakukan alamat baru itu sebagai website yang belum dia kenal, dan proses dikenalinya butuh waktu. Apa saja yang terjadi di masa itu sudah dibahas terpisah di kenapa website tidak muncul di Google.
Ada beberapa hal yang bisa memperpendek masa sepi itu.
- Bawa serta seluruh isi lama yang memang milik Anda, jangan mulai dengan halaman yang isinya seadanya.
- Perbarui alamat website di Google Business Profile Anda, karena profil itu tadi sudah berhasil Anda tarik kembali.
- Hubungi satu per satu situs yang dulu menautkan ke alamat lama, misalnya asosiasi, direktori, atau media lokal, lalu minta tautannya diperbarui.
- Perbarui juga tautan di seluruh akun media sosial, marketplace, dan tanda tangan email Anda.
Soal pilih nama baru, pertimbangkan memakai nama yang sedikit berbeda tapi masih jelas milik siapa. Menambahkan kata kota atau kata bidang usaha di belakang nama brand biasanya lebih aman daripada memakai variasi yang mirip banget dengan domain lama.
Kalau Anda memutuskan membangun ulang, itu momen yang tepat untuk sekalian memperbaiki hal-hal yang dulu dikeluhkan dari website lama. Bagaimana kami mengerjakannya ada di halaman jasa pembuatan website Malang, termasuk soal siapa yang memegang akunnya nanti.
Enam Hal yang Membuat Ini Tidak Bisa Terulang
Anggap saja ini biaya pendidikan yang sudah terlanjur dibayar. Sekarang pastikan vendor berikutnya tidak bisa menaruh Anda di posisi yang sama.
- Domain didaftarkan atas nama badan usaha atau nama Anda sendiri. Minta bukti WHOIS-nya setelah didaftarkan, jangan cukup percaya ucapan.
- Email registrant memakai email yang Anda kontrol. Ini yang paling sering luput. Nama boleh nama Anda, tapi kalau emailnya email vendor, tombol reset password tetap ada di tangan dia.
- Akun registrar dan hosting dibuat atas nama Anda. Vendor diberi akses sebagai pengguna tambahan, bukan sebagai pemilik akun. Kalau Anda belum yakin bedanya domain dan tempat file disimpan, ada penjelasannya di apa itu hosting.
- Klausul hak cipta ditulis di kontrak. Ingat Pasal 36 tadi. Tanpa kalimat tertulis, source code itu bukan milik Anda, seberapa pun besar yang Anda bayar.
- Backup rutin yang Anda simpan sendiri. Minta file backup berkala, simpan di penyimpanan Anda sendiri, jangan cuma percaya bahwa vendor punya salinannya.
- Serah terima tertulis di akhir proyek. Satu dokumen berisi daftar seluruh akun, siapa pemiliknya, dan di mana letaknya. Ini yang membedakan proyek yang selesai dengan proyek yang cuma berhenti.
Kalau Anda sedang memilih vendor baru, daftar pertanyaan yang lebih lengkap sebelum tanda tangan ada di bagian akhir tulisan soal perbedaan website custom dan WordPress.
Satu lagi yang perlu Anda tanyakan sejak awal, yaitu berapa yang harus dibayar tiap tahun setelah websitenya jadi, dan siapa yang menerima tagihannya. Vendor yang menjawab pertanyaan itu dengan gamblang biasanya juga vendor yang tidak keberatan menaruh domain atas nama Anda.
Vendor yang menahan akses jarang melakukannya karena niat jahat sejak awal. Biasanya berawal dari kebiasaan praktis, yaitu satu akun dipakai untuk mengurus banyak klien sekaligus karena lebih gampang. Masalahnya muncul belakangan, waktu vendornya tutup, orangnya berganti, atau hubungannya memburuk. Karena itu pertanyaan yang perlu Anda ajukan bukan "apakah vendor ini jujur", tapi "kalau vendor ini besok berhenti beroperasi, apa yang tetap saya pegang".
Anda tidak sedang meminta yang aneh-aneh kok. Vendor yang terbiasa bekerja rapi justru senang kalau kliennya memegang akunnya sendiri, karena artinya dia tidak perlu jadi penjaga kunci seumur hidup.
Pertanyaan Umum
Saya sudah bayar lunas, apakah domainnya otomatis jadi milik saya?
Tidak otomatis. Yang menentukan siapa pemegang domain adalah nama yang tercatat sebagai registrant di data WHOIS, bukan siapa yang membayar invoice. Pasal 23 ayat (1) UU ITE memakai prinsip pendaftar pertama, jadi kalau vendor yang mendaftarkan atas namanya sendiri, secara administratif dialah pemegangnya. Bukti transfer Anda tetap berguna sebagai dasar menuntut secara perdata atau sebagai bukti itikad baik kalau perkaranya masuk jalur sengketa. Tapi bukti bayar saja tidak membuat registrar mengubah kepemilikan. Periksa dulu WHOIS domain Anda sebelum menyimpulkan posisi Anda ada di mana.
Vendor tidak mau memberikan EPP code, apakah saya tetap bisa transfer domain?
Kalau nama Anda yang tercatat sebagai registrant dan domainnya berakhiran .com, .net, atau .org, posisi Anda kuat. Aturan transfer ICANN mewajibkan registrar menyediakan auth code dalam lima hari kalender sejak diminta, atau membiarkan Anda membuatnya sendiri lewat panel. Registrar juga dilarang menahan auth code semata-mata karena ada sengketa pembayaran antara Anda dan mereka. Kalau tetap ditolak, Anda bisa mengajukan Transfer Complaint langsung ke ICANN. Yang perlu dibedakan, vendor Anda biasanya bukan registrar, dia cuma reseller. Jadi lawan bicara yang benar adalah registrar yang namanya tertulis di WHOIS, bukan vendornya.
Berapa biaya kalau harus menempuh jalur sengketa nama domain?
Untuk domain .id, jalurnya bernama PPND dan dikelola PANDI. Biayanya terdiri dari biaya administrasi dan biaya panel. Untuk sengketa 1 sampai 2 nama domain, biaya administrasinya Rp 6,5 juta dan biaya panelnya Rp 9 juta sampai Rp 10 juta untuk satu panelis, jadi totalnya mulai sekitar Rp 15,5 juta dan ditanggung pemohon. Rata-rata perkara selesai dalam 46 hari. Angka itu belum termasuk biaya kuasa hukum kalau Anda memakainya. Karena itu hitung dulu nilai domainnya buat bisnis Anda sebelum memutuskan maju, karena untuk banyak usaha kecil biaya ini lebih besar daripada membangun ulang di domain baru.
Domain saya sudah expired dan dibeli orang lain, masih bisa diambil kembali?
Tergantung fase siklusnya waktu Anda sadar. Setelah tanggal kedaluwarsa ada masa grace sekitar 30 hari, dan di fase ini domain masih bisa diperpanjang dengan harga normal. Sesudahnya masuk redemption period sekitar 30 hari, masih bisa diselamatkan tapi dengan biaya restore yang bisa sampai sepuluh kali lipat harga perpanjangan. Lalu ada pending delete 5 sampai 7 hari, dan di fase ini pemilik lama sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah itu domainnya bebas didaftarkan siapa saja. Kalau sudah terlanjur diambil pihak lain, satu-satunya jalan adalah menawar untuk membelinya, atau menempuh sengketa kalau nama itu merek terdaftar Anda.
Apakah saya berhak atas source code website yang saya bayar?
Kalau tidak ada perjanjian tertulis yang mengatur, jawabannya tidak. Pasal 36 UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta menyatakan bahwa kecuali diperjanjikan lain, pemegang hak cipta atas ciptaan yang dibuat berdasarkan pesanan adalah pihak yang membuat ciptaan itu. Jadi posisi bawaan hukumnya justru berpihak ke pembuat, bukan ke pemesan. Membayar invoice tidak dengan sendirinya memindahkan hak cipta. Supaya source code jatuh ke Anda, perjanjiannya harus memuat klausul pengalihan hak cipta secara tertulis. Ini alasan kenapa satu paragraf di kontrak jauh lebih murah daripada sengketa di kemudian hari.
Lebih baik memperjuangkan domain lama atau pindah ke domain baru?
Hitung dua hal. Pertama, seberapa besar otoritas yang sudah menempel di domain lama, yaitu umur domain, jumlah backlink, dan peringkat yang sudah didapat. Kedua, apakah nama itu merek terdaftar Anda. Kalau websitenya baru seumur jagung dan backlinknya sedikit, memindahkan ke domain baru hampir selalu lebih murah dan lebih cepat daripada bersengketa. Tapi kalau domain itu nama perusahaan Anda yang sudah dikenal dan mereknya terdaftar di DGIP, memperjuangkannya masuk akal. Satu hal yang perlu Anda sadari, pindah domain di kondisi ini berarti Anda tidak bisa memasang redirect 301 dari alamat lama, karena servernya bukan milik Anda.